Mungkinkah
Wacana Indonesia Emas 2045 Terwujud?
Wacana
Indonesia Emas di tahun 2045, wacana ini mengacu pada usia Indonesia yang
mencapai 100 tahun yang diharapkan mampu menjadi negara yang maju. Namun dengan
masalah-masalah yang masih ada seperti kemiskinan, pendidikan yang tidak
merata, korupsi yang masih merajalela dan lain-lain, mungkinkah wacana
Indonesia emas 2045 akan terealisasikan ?
Seluas
apapun suatu negara, tidak ada artinya jika didalam negara tersebut masih
banyak terjadi kekacauan. Secara garis besar, wacana berarti suatu rentetan
kalimat yang menghubungkan proposisi satu dengan yang lain sehingga membentuk
suatu satu kesatuan. Yang mana hal ini
membuat “Wacana” Indonesia Emas di tahun
2045 masih belum mungkin, dikarenakan masih banyak kekacauan di Indonesia ini.
Menurut
saya pribadi, Wacana Indonesia Emas 2045 belum bisa terwujud. Kenapa? 71 tahun
Indonesia sudah merdeka, tetapi kita masih lemah dalam banyak bidang, teknologi
misalkan, menurut saya, hampir 80% pengguna gadget smartphone di Indonesia
menggunakan produk luar, yang menurut saya hal ini terjadi karena produk buatan
Indonesia memiliki kemampuan yang lebih lemah dibandingkan produk luar. Bahkan
produk dalam negeri pun, memiliki komponen dari luar, gadget tersebut “hanya”
dirangkai di Indonesia saja, komponen – komponen penyusunnya masih didatangkan
dari luar.
Beberapa
hari yang lalu, pemerintah bahkan sempat melakukan impor cangkul 1,5 juta unit,
yang mana hal ini membuat petani semakin miris, meskipun pemerintah kemudian mengatakan
bahwa mereka hanya melakukan impur kepala cangkul saja yang katanya berkualitas
tinggi dan kemudian akan di rangkai didalam negeri, tapi tetap saja, apakah
Indonesia semalas ini sampai – sampai tidak bisa memproduksi cangkul seutuhnya
sendiri? Lebih lagi, di Indonesia, tidak ada petani yang kesawah tidak membawa
cangkul, bahkan di Indonesia sudah ada produsen cangkul yang memang sudah
disediakan untuk membuat cangkul untuk petani. Dari pada cangkul, pemerintah
sebaiknya melakukan impor alat yang lain, mesin giling misal, atau alat – alat
lain yang masih sulit untuk diproduksi di Indonesia.
Negara
maju adalah negara yang mandiri, dalam artian mereka sudah bisa melakukan
segalanya sendiri. Entah itu dalam bidang produksi, SDM, dll. Sedangkan di
Indonesia, hal – hal yang dibutuhkan untuk menjadi sebuah negara maju masih
kurang, seperti yang sudah saya jabarkan sedikit diatas, Indonesia masih jauh
dari kata “Negara Maju”. Ditambah lagi tingkat kemiskinan di Indonesia yang
kian bertambah, serta korupsi yang merajalela membuat kata “Indonesia Emas”
terasa semakin sulit untuk dicapai dengan sisa waktu 29 tahun ini.
Manusia
adalah mahluk sosial, artinya kita tidak bisa hidup sendiri, yang mana impor
menjadi salah satu pilihan bagi negara yang kekurangan “sesuatu”. Tetapi jika
kita melakukan impor barang yang tidak perlu, itu sama saja dengan membuang –
buang kas negara, hutang Indonesia saja masih menupuk banyak, kenapa kita harus
mengimpor hal – hal kecil? Jika kita mengimpor sesuatu yang memang sulit untuk
kita buat sendiri, maka itu masih bisa diterima, apa lagi jika jika mengimpor
SDM pengajar misalnya, hal ini dapat meningkatkan SDM yang ada di Indonesia,
dan dapat membantu untuk terwujudnya “Indonesai Emas 2045”.
Alasan
lain dari ketidak mungkinan terwujudnya “Wacana Indonesia Emas 2045” adalah
adanya pengaruh negatif dari generasi tua ke generasi muda. Misalkan saja, jika
kami para generasi muda ada yang menjadi polisi, dimana kita tahu sendiri bahwa
masih banyak polisi korup di Indonesia, disitu kadang generasi tua menjadi
contoh buruk bagi generasi muda. Tentu saja, tidak semua polisi begitu, tetapi
ini adalah sebagian kecil hal yang menunjukkan bawha “Indonesia Emas” masih
jauh untuk dapat terwujud.
29
tahun memang waktu yang tidak singkat, bahkan bisa jadi generasi muda setelah
kami juga akan ikut menjadi pemeran utama agar “Indonesia Emas” dapat terwujud.
Tetapi selama 71 tahun indonesia merdeka ini, tidak banyak hal yang berubah di
Indonesai, justru selama 71 tahun ini Indonesia mengalami kemerosotan moral dan
pola pikir, seperti misal, sudah lebih dari 50% siswi smp di tiap – tiap daerah
yang tidak lagi perawan, anak sd jaman sekarang sudah memegang smartphone yang
mana hal ini dapat menjadi hal yang harus diperhatikan dengan teliti, karena
bisa saja secara tidak sengaja saat anak sd mencari game atau melihat video
kartun di internet, hal – hal negatif tidak sengaja muncul dan dapat merusak
generasi muda bahkan sebelum mereka dapat berfikir apa yang sedang terjadi di
negara ini.
Peran
generasi tua juga tidak kalah penting, karena seperti yang sudah kita ketahui,
banyak sekali adat dan budaya di Indonesia ini yang tidak memiliki penerus dari
generasi muda dikarenakan generasi muda saat ini telah terpengaruh dengan era
globalisasi ini, yang mana hal ini dapat memicu pencurian budaya yang mana
kemudian generasi muda yang tadinya diam, mulai marah – marah, padahal
sebelumnya tidak ada yang mau untuk menjaganya bahkan melihatnya saja sudah
ogah – ogahan. Atau bahkan hal tersebut dapat memicu hilangnya suatu budaya,
yang mana hal ini akan menjadi suatu kehilangan besar, karena Indonesia adalah
negeri dengan ribuan budaya.
Suatu
negara dapat dikatakan sebagai negara maju bukan hanya dalam kemampuan mereka
dalam teknologi, tetapi juga dalam hal budaya. Seperti di negara maju lain
seperti Singapore, Jepang, Korea, Amerika Serikat, dll. Selain memiliki
kemampuan lebih dibidangnya masing – masing, negara – negara tersebut juga
menjaga budaya mereka dengan baik.
Tidak
ada yang tidak mungkin di dunia ini, tentusaja sebagai warga negara Indonesia,
saya sangat berharap bahwa Wacana Indonesia Emas 2045 dapat terwujud, tetapi
saya lebih memilih kontra terhadap wacana tersebut dikarenakan bukti – bukti
Indonesia dapat menjadi sebuah negara maju masih sangat kurang. Selama 71 tahun
Indonesia berdiri sendiri, banyak sekali hal yang telah menimpa Indonesia,
mulai dari Kerusuhan Mei 1998, perginya Habiebie dari Indonesia, koruptor
terkenal yang menjadi bukti bahwa “Hukuman bisa dibeli” dan pemilihan gubernur
Jakarta yang tengah hangat dibicarakan beberapa minggu ini.
Indonesia
telah mencoba melakukan beberapa langkah untuk mencapai “Indonesia Emas 2045”,
seperti diadakannya Ful lDay School yang
mana dalam pandangan saya, hal ini justru membuat generasi baru yang akan
datang menjadi tertekan untuk pergi kesekolah serta membuat komunikasi antara
orang tua dan anak semakin terpisah, karena anak memiliki waktu yang sedikit
untuk berbincang – bincang dengan orang tuanya.
2045
atau 100 tahun Indonesia, dijadikan target untuk generasi muda membawa
perubahan agar Indonesia dapat menjadi negara maju. Tetapi dengan banyaknya hal
yang masih harus dibenahi di Indonesia ini, apakah wacana tersebut dapat
terwujud? Atau hanya akan menjadi wacana saja? Hanya waktu yang bisa menjawab? Salah,
hanya warga Indonesia sendirilah yang bisa menjawabnya. Sebagai salah satu
warga Indonesia, menurut saya kita masih butuh banyak waktu lagi untuk mencapai
“Indonesia Emas 2045”.

0 komentar:
Posting Komentar